WELCOME
Showing posts with label m"baham. Show all posts
Showing posts with label m"baham. Show all posts

Tuesday, April 5, 2011

Kekayaan Papua di Kuras_Rakyat Dibiarkan Melarat


Papua adalah provinsi  yang terletak diufuk bagian timur NKRI.Negeri yang sangat kaya melimpah berbagai sumber daya alam. Namun,nyatanya masyarakat  masih hidup dalam kemiskinan,kebodohan dan ketertinggalan. Ditambah lagi dengan perlakuan tidak adil sering kali dialami masyarakat pribumi diatas negerinya oleh perampok-perambok rakus. Dengan cara mengatasnamakan kepentingan  rakyat Papua untuk menyelesaikan berbagai masalah diatas tanah Papua. 
Warga suku Kamoro di Kab.Mimika tampilkan aktraksi yang menggambarkan hidup mereka  yang  masih terlilit dalam kemiskinan & kebodohan dalam sebuah kesempatan di Mimika belum lama ini                                          



Ini bukan sekedar  cerita fiktif tetapi ini sudah menjadi masalah riil yang terus merongrong  kehidupan rakyat Papua dewasa ini. Namun bagaimana rakyat bisa bangkit melawan ketidakadilan diatas tanah  ini,sementara semua akses  ditutup . Tidak ada ruang gerak bagi rakyat untuk berbicara membela hak-hak dasar  dan kebenaran yang menjadi kekuatan untuk menunjukan kepada dunia. Bahwa selama ini rakyat Papua hidup dalam penindasan dan ketidakberdayaan.

Sementara, disisi lain kekayaan negerinya terus dikuras habis oleh  kepentingan pusat dan sekutu yang serakah. Dan tak memperdulikan kondisi yang dialami rakyat Papua yang masih bergulat dengan kemiskinan dan kebodohan. Sangat ironis sekali bila dilihat dari sumber daya alam yang melimpah harusnya ada porsi  prioritas pembangunan dan kesungguhan dari pusat ditanah Papua. Jika benar-benar ingin membangun negeri ini dan mengangkat harkat dan martabat rakyat Papua.

Namun itu tidak mungkin, karena pusat tentu akan berpikir panjang bahwa tidak penting membangun tanah Papua. Toh, rakyat Papua walaupun secara hukum adalah bagian dari NKRI namun dari segi RAS rakyat Papua adalah tetap rakyat  kulit hitam RAS melanesia. Yang tidak pernah ada hubungan apapun dengan KNRI. Sehingga tidak penting membangun tanah Papua, lebih baik kekayaannya dimanfaatkan untuk menyelamatkan perampok pusat dari berbagai kasus korupsi dan kepentingan lain. Dan, menjadikan tanah Papua sebagai kawasan sasaran pencaker NKRI serta kepentingan lain untuk mengurangi NKRI dari berbagai gejolak sosial,ekonomi dan politik. 

Akibat dari strategi pusat rakyat Papua yang justru dikorbankan. Contohnya, perekrutan CPNS di tanah Papua yang adalah negeri sendiri kebanyakan diberikan peluang lebih besar bagi  para pendatang atau warga non Papua. Sementara rakyat aslinya tidak diberikan kesempatan yang seluas-luasnya  diatas tanah ini sungguh malang rakyat Papua. 

Diatas tanah sendiri saja sudah mendapatkan perlakuan tidak adil seperti itu. Apalagi didaerah lain rakyat Papua hanya dipandang hina ,rendah  dan tidak diberikan kesempatan itulah yang terjadi. Padahal, sudah diamanatkan secara jelas dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus. Dimana, lewat UU itu diberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada rakyat Papua diatas tanah ini.tapi apa yang terjadi. Sepertinya implementasi pemahaman  UU itu    terbalik karena fakta menunjukan lebih banyak  diberikan  porsi  kepada  warga non Papua. Itu baru PNS belum lagi dengan persoalan lain yang terjadi diatas tanah ini.

Akibatnya, dalam prakteknya PNS cenderung tidak peduli dengan tugas pelayanan yang katanya sebagai abdi negara.  Ini bisa dilihat dari kehidupan dan aktifitas PNS di tanah Papua  yang cenderung dapat dikatakan pemerintah melayani pemerintah. Tentu saja, sebagai contoh kegiatan yang sebenarnya ditujukan untuk rakyat tetapi sasaran kembali ke pemerintah sendiri.

''Contohnya: salah satu kegiatan di Kabupaten Mimika baru-baru ini dalam rangka HUT Mimika ke-10 tahun 2011 panitia  gelar pemeriksaan gratis atau tepatnya Pap smear bagi ibu-ibu. Seharusnya sasarannya diberikan kesempatan kepada ibu-ibu kampung terutama mereka yang berasal dari keluarga ekonomi  lemah. Yang sama sekali buta tentang informasi seperti itu, yang harus mengikuti,tetapi apa yang terjadi justru yang ikut kegiatan tersebut justru ibu-ibu yang sudah paham dan berasal dari keluarga mapan,''

Ini baru satu contoh dari sekian ketidakadilan yang terus terjadi diatas tanah ini...belum lagi dengan persoalan lain. Yang hingga kini belum tersentuh secara merata dan maksimal seperti pelayanan pendidikan, kesejahtraan serta layanan kesehatan belum merata dan maksimal bahkan jauh dari harapan. Akibatnya rakyat hanya bisa melarat diatas kekayaan yang melimpah.

Kalau seperti ini  terus bagaimana dengan nasib kita rakyat Papua. Apalagi nanti setelah 16 tahun berakhir Otsus rakyat Papua akan tersingkir....Mari kita bersama bangkit membela hak-hak kita sebagai rakyat Papua jangan mau terus ditindas...( ***)







Tuesday, March 29, 2011

Ratapan Nasib Seorang Insan


Aku adalah dara
yang hidup  dilautan nasib
menghias tiap detik 
yang tercipta dengan doa....

Memahat hari yang terlewati 
dengan luapan kasih sayang
Sepotong luka yang sempat menghujam tajam..

Kusadari bukanlah apa-apa
Hidup tak selamanya bertabur cinta
Adakalahnya dusta dan pengingkaran...

Datang menghitamkan hari
Merobek janji nurani
menodai wajah hati yang tak bernoda

luka hanyalah luka
tak lebih dari itu
Luka bukan untuk diratapi
tapi  ditasbikan

luka menjadikan hidupku lebih berwarna
seperti warna-warna awan
yang setia berkelok di pusaran angin

Lautan nasib telah mengajarkanku akan hidup
janganlah larut dalam kesedihan
janganlah menghiba pada pengingkaran
lukislah hari dengan semangat mencintai

menyemaikan benih-benih kasih
diwajah bumi dikaki langit
itu yang membuatku tetap terjaga

berdiri kukuh diantara gelombang lautan
yang tak henti menerpa
menenggelamkan  hati yang putus asa
aku masih akan terus terjaga
karena aku yakin, sesungguhnya
Tuhan telah punya rencana untukku...(***)

Saturday, February 5, 2011

Rakyat Papua Masih Terbelakang

Perkembangan masyarakat Papua dari waktu ke waktu belum ada suatu perubahan kearah yang lebih baik. Meski berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Indonesia salah satunya melalui kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua. Yang kini telah berjalan selama satu decade tetapi belum menunjukan perubahan signifikan terhadap rakyat Papua. Sebaliknya, kebijakan tersebut dianggap sia-sia, karena sama sekali tidak memberikan dampak berarti bagi orang Papua terutama menjawab   seluruh hak dasar rakyat Papua. 
 
Namun sebaliknya, Otsus hanyalah sebuah sarana bagi pemangku- pemangku kepentingan yang ada dipusat. Sementara, masyarakat Papua sendiri dijadikan sebagai objek untuk kepentingan mereka.  Dan membiarkan rakyat Papua    berkutat dengan kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan diberbagai segi kehidupan.

Bagaimana tidak, dana Otsus yang begitu besar untuk membangun Papua. Tidak digunakan sesuai dengan sasaran pembangunan. Atau bisa dikatakan dana yang terserap untuk semua sector pembangunan hanya sekitar 20 persen. Sedangkan sekitar 80 persen kembali lagi ke pemerintah pusat.

Dengan demikian, tuntutan pembangunan di Papua otomatis tidak sepadan dengan dana itu. Apalagi, melihat kondisi pembangunan di Papua yang  masih sangat terbelakang. Sehingga bagaimana mungkin dana yang terserap seperti yang ditaksir diatas  dapat mendorong percepatan pembangunan di Papua. 
 
<am5r>




Salah satu akses jalan utama yang menghubungkan Kampung Sanggram menuju Ibu kota kabupaten Fakfak, kini dinanti warga kampung agar segera diaspal.














Sunday, January 16, 2011

Belajar Dalam Rumah Ibadah

Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Persekolahan Gereja-Gereja di Indonesia (YPPGI) Meuwo Timika Indah merupakan salah satu sekolah yang terletak  didalam kota Timika. Namun nasib 366 murid yang belajar di sekolah tersebut tidak seberuntung anak-anak disekolah lain.  Sebab, kegiatan belajar mengajar disekolah yang seratus persen anak asli Papua berjalan tidak efektif. Bagaimana tidak gedung untuk berlangsungnya KBM belum tersedia. Demikian halnya, dengan ruang kelas, fasilitas dan kelengkapan KBM lainnya.
 
Ratusan siswa itu hanya bisa belajar dalam sebuah rumah ibadah. Yang kondisinya juga sangat tidak layak hanya terbuat dari papan yang kini mulai lapuk. Sedangkan kursi yang digunakan murid itu adalah kursi rumah ibadah. Dimana, satu kursi ditempati lima hingga enam siswa. Sementara sandaran kursi dijadikan sebagai meja. Kondisi ini sangat tidak menyenangkan karena tidak semua siswa bisa duduk manis kemudian menulis ataupun mengerjakan tugas lain. Karena agak tinggi sehingga para siswa terpaksa harus berdiri bagi mereka yang bertubuh kecil.

Belum lagi, riuh terikan murid kelas sebelah yang tidak jauh. Sebab, tidak ada dinding kelas yang memisahkan kelas satu dengan yang lainnya. Hanya dipisahkan dengan papan tulis berukuran 1 x 2 meter pada setiap kelas. Disinilah ratusan murid ini merajut masa depan mereka dalam kondisi serba keterbatasan. Mereka tetap tersenyum dan ceriah mengikuti KBM setiap hari.

Kepada SD setempat Petrus Pakage menuturkan KBM sudah berjalan selama empat tahun dalam kondisi itu. Sejak mengungsi dari Kwamki Narama saat terjadi konflik tahun 2006 lalu.  Pihak sekolah lanjut Pakage telah berupaya untuk membangun gedung sekolah. Hanya saja masih terkendala pada pembebasan lahan. Sementara, pemerintah bersedia membangun gedung sekolah. Namun, dengan catatan pihak sekolah harus menyediakan lahan.

Sayangnya, sekolah tidak sanggung membebaskan lahan senilai Rp400 juta. Sebab, orangtua murid yang rata-rata petani itu tidak mampu membayar lahan semahal itu. Sehingga sampai saat ini, belum ada kepastian untuk pembangunan gedung sekolah baru. Tinggal menanti pihak yang bersedia mengubah ratusan nasib murid disekolah itu untuk menempati gedung yang lebih layak.

SD YPPGI Meuwo Timika Indah ini tentunya, satu dari sekian sekolah di Papua khususnya di Timika belum mendapatkan perhatian penuh. Ini didalam kota saja seperti ini apaladi yang jauh dari jangkauan seperti apa kondisinya. Diharapkan kepada pemerintah pusat agar sekali waktu coba menjejaki wilayah di Papua untuk melihat fakta dilapangan seperti apa. Sebab, pemerintah didaerah ini tidak memperduli kondisi yang ada didaerah terutama kawasan terpencil. Akibatnya, banyak anak-anak yang menjasi korban tidak mendapatkan pelayanan pendidikan.(Am5r_anna)

    Murid SD YPPGI Meuwo Timika Indah Mimika Papua
     Siswa SD YPPGI Meuwo Timikah Indah Mimik PapuA


      Murid SD YPPGI Meuwo Timika Indah Mimika Papua

Tuesday, January 11, 2011

Informasi Gizi Penting Bagi Masyarakat

  • Pada awalnya keinginan dan tuntutan akan kebutuhan pangan dirasakan secara naluri. Tanpa diajar orang berusaha dengan berbagai cara untuk memperoleh pangan (makanan). Yang dikumpulkan atau tersedia di alam bila merasa lapar. Pada masa seperti ini ukuran kecukupan kebutuhan pangan adalah tidak adanya rasa lapar. Yakni ketika  seseorang sudah tidak merasa lapar baru dikatakan cukup.
    Memasuki era perekonomian uang dan industri manusia dihadapkan pada kebutuhan memperoleh pangan yang tidak tersedia sebagai benda bebas di alam. Sehingga berlaku prinsip-prinsip ekonomi dalam upaya memenuhi kebutuhan pangannya. Berapa banyak yang harus dimakan dan bagaimana cara yang efektif untuk memperoleh kebutuhan pangan. Agar dapat memenuhi kebutuhan gizi guna mendapatkan kesehatan tubuh yang optimal. Selain daripada upaya mengusir rasa lapar.
     
  • Naluri rasa lapar saja ternyata belum cukup untuk mengungkapkan tabir rahasia yang terkandung dalam makanan. Fungsi makanan bagi tubuh dan metode efektif untuk mendapatkan kesehatan tubuh yang optimal. Melalui konsumsi makanan sesuai dengan kecukupan yang dibutuhkan tubuh.
    Sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan ilmu kimia dan biokimia telah melahirkan ilmu gizi. Menjelang akhir abad ke-18  lahirnya ilmu gizi ini ditandai dengan penemuan besar tentang peranan oksigen dan proses pencernaan makanan dalam tubuh oleh Antoine Lavoiser melalui serangkaian percobaan Laboratorium pada Marmot dan rekan sekerjanya pada tahun 1783-1793. Lavoiser bapak Ilmu Kimia modern ini telah berhasil meletakan dasar-dasar ilmu gizi berupa fungsi kimia dan biokimia makanan dalam tubuh (Book,Hardiansya, Drajat Martianto, Gisi Terapan, 1992, Bhan IPB).

    Setelah penemuan Lavoiser dibidang gizi para ahli mulai berhasil membuka satu per satu tabir rahasia susunan kimia dalam makanan. Yang berguna bagi kesehatan tubuh, yang selanjutnya disebut dengan zat gizi. Yang akhirnya dapat dikelompokkan menjadi karbohidrat, protein,lemak,mineral dan air serta sejumlah zat-zat gizi lainnya.
    Dan sampai menjelang akhir abad ke-20 mulai ditemukan sekitar 50 senyawa yang diperlukan oleh tubuh untuk hidup sehat. Senyawa tersebut tersedia pada berbagai bahan pangan. Disamping itu, melalui berbagai jenis penelitian telah terungkap tentang kebutuhan manusia akan beragam zat gizi yang terkandung dalam bahan pangan.Yang langsung maupun tidak langsung turut berperan penting dalam pertumbuhan maupun perkembangan manusia.
    Tak hanya itu, namun peranan zat gizi dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. Berbagai akibat kekurangan (defisiensi) maupun kelebihan berbagai zat gizi dapat berpengaruh pula terhadap kesehatan tubuh seseorang.
    Oleh karena itu, maka sejalan dengan temuan Lavoiser disadari akan pentingnya kesehatan tubuh. Dan tubuh kita akan tetap bergantung pada kebutuhanzat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh k setiap saat. Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi maka bukan hanya sekedar mengkonsumsi setiap makanan yang tersedia. Namun hal terpenting adalah mengetahui zat gizi yang terkandung dalam bahan pangan itu. Demikian juga akan juga fungsi dan manfaat daripada zat gizi yang dikonsumsi terhadap kesehatan tubuh.
    Termasuk pentingnya informasi dampak dari kelebihan ataupun kekurangan zat gizi yang dikonsumsi terhadap kesehatan tubuh. Hal ini penting diketahui oleh siapa saja, agar lebih awal memiliki gambaran untuk bagaimana dapat menyiapkan makanan sesuai dengan kebutuhan gizi yang dibutuhkan.
    Hal ini dimaksudkan agar pengetahuan akan kebutuhan makanan yang dikonsumsi sehari-hari bukan sekedar untuk memenuhi rasa lapar. Namun yang terpenting, memperhatikan unsur zat gizi yang ada dalam makanan tersebut. Yang berguna bagi kesehatan tubuh seseorang. Sebagai upaya preventif maupun kuratif bagi setiap orang diberbagai usia termasuk untuk menjaga perkembangan dan pertumbuhan tubuh manusia.(am5r_maya)

Saturday, January 8, 2011

166 Ribu Anak di Papua Terancam Jadi Yatim/ Piatu

***Berdasarkan hasil study internasional pada tahun 2006 diperkirakan pada tahun 2025 di Papua lebih dari 166.000 anak akan menjadi yatim atau piatu karena AIDS. Kemudian lebih dari 97.000 orang akan meninggal karena terserang AIDS. Kondisi ini tentu akan menurunkan jumlah tenaga kerja lebih dari lima persen. Sehingga HIV dan AIDS akan memberi dampak yang sangat luar biasa parah terhadap penurunan kesehatan, perekonomian, social, produktifitas dan bisnis di Papua.

Sementara itu, sesuai data dari kementrian kesehatan RI melaporkan bahwa sampai tanggal 30 Juni 2010 kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan berjumah 21.770 . Untuk Provinsi Papua sendiri telah menempati urutan ke-4 kasus AIDS tertinggi yaitu 2.858 kasus. Dimana, 94 persen penularan HIV tertular melalui hubungan seksual. Kecepatan pertambahan kasus Aids di Provinsi Papua 14,34 kali lipat dari angka nasional. Dan ini menempatkan Papua menjadi nomor satu dalam presentasi kasus HIV dan AIDS yaitu 3,6 persen.
Dimana, pada kenyataannya angka yang tercatat ini hanyalah kurang dari 10 persen. Dimana, Sembilan dari 10 Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA), tidak tahu bahwa dirinya terinfeksi HIV. Sementara itu, Komisi Penanggulangan AIDS Nasinal (KPAN) memperkirakan bahwa saat ini terdapat sekitar 27.670 orang terinfeksi HIV dari 2.851.999 penduduk.

Namun dijelaskan bahwa dengan respon yang cepat,efektif dan insentif dalam menanggulangi HIV dan AIDS diperkirakan akan dapat mencegah 42 ribu kematian. Menekan jumlah anak yatim /piatu dari 166 ribu menjadi kurang dari 40 ribu orang. Secara ekonomi biaya yang dibutuhkan untuk perawatan dan pengobatan yang diperkirakan mencapai > 14 juta $ AUD tahun2025 dapat ditekan hingga 50 %. Inventasi dalam upaya pencegahan dapat menyelematkan jutaan nyawa…..(am5r_anna)
(Sumber Data: Press Releale By Chaterina Widjaya “<Ketua IBCA>”)